Perjalanan Panjang Menuju Muslimah Kaffah

Just another WordPress.com site

Eksis Sebagai Penyebar Kebaikan

Fragmen 1:

Seorang tetangga,  sore itu ke rumah saya:

“Bu Iin, si kakak mau ulangan nich. Mana nggak ada buku panduannya lagi.” Kata ibu berputra dua itu

“Memangnya ulangan apa Bu?” jawab saya

“Penjaskes. Kan diajarainnya cuman prakteknya, eh ini ada ujian tulis lagi. Belajar dari mana donk? Kalau mau beli bukunya harus ke Malang, sementara waktunya mepet dan ayahnya kerja. Bu Iin punya bukunya nggak?”

“Sudah nggak ada Bu. Pada di kampung. Tenang saja Bu, nanti saya cariin materinya di internet. Dilist saja materi-materi yang perlu dicari”

Iya dech, terima kasih ya Bu Iin.

Fragmen 2:

Pagi itu saya ngobrol bersama tetangga sambil nyuapin si kecil:

“Wah sekarang ini lho kue ulangtahun bagus-bagus dan banyak sekali bentuknya ya Bu Iin”

“Iya Bu. Sampai-sampai teman saya jual kue ulangtahun yang terbuat dari jelly”

“Lho bisa ta Bu Iin. Caranya gimana?”

“Saya juga belum pernah coba sich Bu, cuman baru lihat bentuknya, ada di blog teman saya itu. Bagus dan unik”

“Boleh donk Bu Iin, ntar saya dikasih lihat caranya di internet rumah Bu Iin”

“Iya Bu, boleh”

Itulah beberapa manfaat internet yang saya rasakan, bisa membuat kita tetap eksis-tidak hanya eksis di dunia maya, tapi juga di dunia nyata.

  1. Eksis di dunia maya

Saat ini dunia semakin sempit. Dengan kartu chip, sekecil itu kita bisa menjelajah ke mana saja.

Keberadaan internet dan fasilitas-fasilitasnya, seperti faceboog, blog, dan twitter, memudahkan kita menjalin persahabatan. Baik dengan teman-teman yang sudah kita kenal, maupun orang-orang yang belum dikenal. Tak jarang saya kembali menemukan teman-teman sekolah saya, yang sudah puluhan tahun terpisah, seperti teman SD, lewat facebook/twitter. Saling bertegur sapa, dan kembali bernostalgia… he.. Atau terkadang saling berbincang bisnis lewat chatting YM dengan teman kuliah saya yang terpisah jauh. Hingga inspirasi dan ide bisnis muncul dan membangun kerjasama bisnis.

Kemudian dengan ngeblog, blogpost dan blogwalking, kita dapat saling mengunjungi dan berkenalan dengan orang-orang baru dan saling menyemangati, berbagi inspirasi, serta menyebarkan kebaikan.

Selain itu, pemanfaatan secara positif, dapat kita lakukan dengan bergabung bersama komunitas-komunitas yang ada. Seperti misalnya komunitas penulis, komunitas bisnis, komunitas ibu rumah tangga, komunitas blogger, dll. Dengan bergabung di komunitas-komunitas tersebut, kita dapat belajar banyak hal dan bertemu dengan banyak orang, sehingga pengetahuan dan pergaulan semakin luas. Bergabung dengan komunitas juga merupakan bagian dari membangun jejaring. Jejaring diperlukan dalam meningkatkan karir dan bisnis.

2. Eksis di dunia nyata

Dengan adanya internet dan memanfaatkannya secara positif, kita bisa memberi manfaat lebih luas. Ada sebuah pepatah yang berbunyi Inti dari kecerdasan adalah bermanfaat. Bagaimana kita bisa memberikan manfaat secara luas, tidak hanya untuk teman-teman di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Selain itu juga jadi nyambung kalau diajak bicara. Luas pergaulan. Bayangkan saja pengaruh internet yang luar biasa dalam setiap sisi kehidupan kita. Teknologi informasi terus berkembang, kalau kita tidak bisa mengikuti, maka kita akan tertinggal.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, karena sering berada di rumah, saya sering sekali mendapat curhatan atau pertanyaan dari tetangga, baik ibu-ibu, remaja, maupun anak-anak. Kalau saya tidak bisa menjawab, maka saya tanya ke internet. Meskipun tidak pernah saya kenakan biaya, tapi terkadang mereka memberi sesuatu sebagai ucapan terima kasih. Entah itu makanan, hadiah untuk anak saya, bahkan ada yang sampai ngasih beras. Daripada menolak rejeki, lebih baik diterima ^_^.

Semoga ke-eksisan kita  selalu dalam jalur positif. Eksis sebagai penyebar kebaikan. Dan senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan.

*tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog dunia AXIS

Tidak ada Komentar »

Ngeblog Untuk Terus Belajar dan Berkarya

Ngeblog adalah sesuatu yang mengasyikkan… Pertama kali ngeblog, saya diajarin suami. Sebenarnya saat masih kuliah, saya pernah membuatnya di blogspot, tapi  karena lama tidak diupgrade, blog itu hilang entah ke mana..he. Dan kegiatan ngeblog baru muncul lagi setelah menikah dan punya anak (awal tahun 2010). Ngeblog itu gampang ternyata. Meskipun harus senantiasa diupgrade kemampuan dalam bidang ini. Tapi saya sangat menikmatinya. Yang saya pakai saat ini adalah wordpress (domain gratisan gitu lho…he.he…). Meskipun begitu, saya punya cita-cita untuk memiliki blog dengan domain yang lebih bagus dan memakai dot com.

Asyiknya ngeblog…,

Bisa nulis kapan saja kita suka dan bisa dibaca siapa saja. Seperti diary yang saya tulis waktu kecil. Sekarang diary itu adalah blog kita. Berbagai pengalaman, ilmu, dan cerita dapat kita bagikan, sehingga dapat dijadikan pelajaran bagi yang membacanya.  Tentunya segala sesuatu yang kita tulis adalah yang baik-baik.

Blog adalah ibarat rumah maya kita. Untuk menjalin pertemanan dan silaturahim dengan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja tanpa batas. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah pertemanan yang positif. Saling bertukar link, bertukar info (antara lain tentang pendidikan anak, kesehatan, kuliner, ketrampilan, dll), dan menyemangati satu sama lain. Selain dengan teman-teman di dunia maya, bisa juga mempererat ikatan persaudaraan. Seperti saya dan kakak yang tinggal berjauhan, saya di Jawa Timur, sedangkan kakak di Jakarta, tapi kami tetap tahu kabar masing-masing dan saling menyapa lewat blog. Tak jarang kami mengupload foto dan cerita kegiatan kami dan anak masing-masing. Happy nice blog walking ^_^.

Asyiknya lagi bisa buat promosi alias jualan. Baik promosi acara ataupun untuk memajang dagangan-dagangan kita di sana. Dan itu bisa kita lakukan secara gratis. Tentu saja membayar biaya pulsa untuk internet saja. Enak bukan? Punya toko online yang menjangkau semua wilayah dan kalangan. Dan tentunya membantu suami dalam hal keuangan. Lebih bagus lagi jika blog yang kita miliki memiliki domain dan hosting yang bagus. Akan memudahkan kita dalam melakukan marketing.

Bisa ikut lomba. Saat ini banyak sekali kompetisi untuk para blogger. Tinggal kita aktif mencari informasinya. Dan meskipun sampai saat ini belum berhasil menang dalam kompetisi blog, insyaAllah saya tidak akan menyerah untuk terus berjuang..he.he… Selain mengasah kemampuan menulis, mengikuti berbagai kompetisi blog juga dapat meningkatkan pengetahuan kita. Secara tidak langsung kita dipaksa untuk berpikir dan mengembangkan tema lomba yang diberikan.

Hidup adalah rangkaian waktu untuk belajar dan terus belajar. Berkarya, dan terus berkarya. Meskipun sudah menjadi emak-emak dan punya anak, harus tetap semangat untuk terus belajar dan berkarya…. Tak jarang apa yang saya dapatkan dari kegiatan ngeblog ini, saya bagikan kepada ibu-ibu yang lain. Baik teman-teman maupun tetangga saya. Misalnya info kesehatan, parenting, resep masakan, dll. Ayo nge-blog untuk terus belajar dan berkarya!

*“Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Ngeblog di Mata Perempuan” yang diselenggarakan oleh EmakBlogger” . http://emak2blogger.web.id

12 Komentar »

Cinta Itu Sejuta Rasa

Seperti kebanyakan para remaja, ketika memasuki masa puber, maka “rasa” terhadap lawan jenis itu ada. Begitupun dengan saya, waktu masih duduk di bangku sekolah, tepatnya di SMU, saya pernah merasakan kekaguman pada seseorang. Tapi tidak sampai kepada rasa cinta. Kagum karena prestasi-prestasi yang dia peroleh saat itu.

Rasa cinta baru saya rasakan saat ini. Saat semuanya sudah halal dan terbingkai dalam pernikahan suci. Sejak tiga tahun lalu sampai sekarang dan  insyaAllah seterusnya. Saya mencintai seorang pria yang sangat istimewa bagi saya dan anak saya. Dia adalah suami saya. Dan cinta itu terus tumbuh laksana tanaman yang senantiasa dipupuk, disiram, dan dirawat, maka begitulah cinta saya kepadanya.

Rasa Cinta itu…,

Senantiasa mengingatnya.. Dia (sang kekasih hati)  senantiasa ada dalam pikiran kita. Sudah makan atau belum, sehatkah?,  bagaimana kondisinya. Apalagi setelah menikah, kami masih tinggal berjauhan, sehingga hampir setiap jam SMS-an, saling menanyakan kabar. Bahkan saat itu  sampai-sampai di setiap buku saya ada nama suami saya. Pun ketika disebut namanya, bergetarlah rasa hati ini. Apalagi di masa-masa awal menikah. Sangat terasa sekali.

Mengagumi. Kalau dulu saya pernah kagum pada seseorang hanya karena prestasinya. Tapi sekarang kekaguman itu ada dalam segala hal. Tidak hanya prestasi, tapi pria disamping saya ini adalah sosok yang istimewa dalam hal akhlak, prestasi, agama, dll. Dia seorang pria yang segera minta maaf jika bersalah, memaafkan jika dimintai maaf,  pekerja keras, lapang dada, dan banyak lagi hal yang membuat saya semakin kagum dan mencintainya. Jikalau ada kekurangan, maka kami saling memperbaiki dan menasehati satu sama lain

Ridho/rela. Mencintai berarti ridho/rela terhadap apa yang kita cintai. RIDHO terhadap apa yang diinginkan oleh yang dicintai, yang kemudian Ridho ini akan melahirkan ta’at terhadap yang dicintai.

Siap berkorban. Segala hal membutuhkan pengorbanan. Begitupun dengan cinta. Ketika kita mencintai seseorang, berarti kita harus siap mengalahkan ego kita. Berbagi, saling mengerti, dan memahami satu sama lain.

Mengharap. Mencintai berarti kita senantiasa berharap padanya. Berharap untuk terus menjaga cinta. Membawanya hingga bersama ke surga…. Aamiin…

*tulisan ini diikutsertakan dalam lomba BLOGGER BICARA CINTA blog detik

Tidak ada Komentar »

Jalan Sunyi Sakti

Ahad, 19 Januari 2012, saya beserta anak dan suami berkesempatan menonton konser Palestina di Gedung Samantha Unibraw. Di sesi satu, selain IZZIS, Ust Subki Al Bughury, ada penampilan Salman Al Jogjawy yang membuat saya agak terkejut. Sosok yang betul-betul lain.

Beliau adalah Sakti ex Sheila on7:

   

before                                             after

Berikut kisahnya:

Jalan Sunyi Sakti
Hidup memang untuk berubah…

Beruntung mereka yang menemukan jalan ketenangan dalam hidupnya. Merugi, mereka yang hidup dalam kegersangan, kegelisahan, walau punya popularitas dan harta yang melimpah. Dengan harta dan popularitas, kita mungkin membayangkan dunia yang indah, enak, menyenangkan. Tapi, ternyata dengannya, bukan merupakan jaminan mencapai apa yang dibayangkan itu.

Setidaknya, gambaran yang demikian terjadi pada Sakti Ari Seno, mantan gitaris “Sheila on 7”. Sakti, memilih hengkang dari dunia harta dan popularitas itu. Rela meninggalkan dunia musik. Dia memilih jalan sunyi. Dia memilih, untuk sementara absen di dunia musik. Aktivitas kesehariannya, kini digunakan untuk memperdalam agama. Awalnya demi ketenangan jiwa, setelahnya, dia ikut juga menyebarkan nilai-nilai moral dan kemanusiaaan dalam agama itu.

Ya, saya tahu itu setelah Sakti mengisi acara tabligh akbar menyambut ramadhan yang diadakan anak-anak rohis pada kampus FISIP Unsoed Purwokerto. Kedatangannya, tentu menarik perhatian anak-anak muda. Bagaimana tidak, rasa-rasanya, banyak orang yang ingin mengetahui kisah hidupnya mengapa dia memilih jalan sunyi itu. Jalan tak biasa. Ditambah, publikasi yang disebar panitia, dengan poster full colour, menampilkan senyum diwajahnya, membuat orang semakin penasaran saja.

Awal perubahan hidupnya begini…

Kisah ini saya dapatkan dari teman yang ngobrol menemaninya sewaktu tabligh akbar kemarin (untuk Sakti mohon dikoreksi kalau ada yang salah). Maklum, saya hanya sempat menengok sebentar saja. Dulu, setelah konser dari Malaysia, dia sempat membaca buku tentang kematian. Kemudian, dia pandang pesawat saat dibandara, bagaimana kalau tiba-tiba pesawat meledak. Bekal apa yang telah dipersiapkan untuk menghadapNya. Rupanya, momen itulah yang membuatnya punya niat untuk merubah sendiri jalan hidupnya setelah pulang ke Indonesia nanti.

Sesampainya di Indonesia, gelisahnya menjadi. Ditengah kegelisahannya itu, ada teman yang mengobati gelisah jiwanya. Teman itupun mengajaknya untuk belajar agama. Benar, singkat kisah, diapun berangkat ke Pakistan memperdalam agama. Sekembalinya di tanah air, kita bisa melihat perubahannya sampai sekarang. Kita bisa melihat aktivitas Sakti seperti yang sering kita baca di media, bergelut di dunia keagamaan.

Yang saya tahu, salah satunya sebagai pemandu umroh. Dan, tentu saja menyebarkan nilai agama, seperti bersedia menjadi pembicara dalam tabligh akbar itu. Ada secuil kisah unik, ketika panitia menanyakan berapa honornya mengisi acara itu, dijawab hanya dengan senyum saja. Panitia, tentu tahu maksudanya. Begitulah Sakti yang sekarang. Sakti sendiri di lain kisah, mengaku sangat menghormati Arman Maulana (Gigi) dan Tohpati, walau dia sibuk bermusik, tapi tetap tak meninggalkan sholatnya, tak meninggalkan ibadahnya. Info terbarunya, Sakti memang akan kembali bermusik tapi dengan sentuhan religi, kita tunggu saja.

Begitulah sekelumit kisah Sakti, mantan personil “Sheila on 7” itu. Apa maknanya?. Kita belajar untuk tak terlalu memburu popularitas. Ingin dikenal luas dimata publik. Karena, bukan saja memburunya tak terlalu punya manfaat, juga bukan jaminan hidup kita enak dan nyaman. Makanya, bagi siapapun yang kini mati-matian mengejar popularitas, kadang menempuh berbagai cara sampai hilang akal sehatnya, sungguh ini bukan jalan yang indah. Bisa jadi justru akan merepotkan dan tak menyenangkan. Berpikir ulanglah kalau punya niatan itu. Dari Sakti, kita juga bisa belajar, apapun aktivitas kita, selalu ingat Yang Diatas itu utama, bukan saja karena kita hamba, juga demi ketenangan dan ketentraman jiwa kita sebagai manusia.

sumber: penakayu.blogspot.com

 

Tidak ada Komentar »

Apakah Anak-ku harus rangking 1?

Si Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

 

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?

Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.
Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.

Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.

Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.

Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.
Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.

Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.

Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.

Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.

Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.

Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.
Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.

Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?

Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?

Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
- Khalil Gibran

 

sumber:annasahmad.wordpress.com

Tidak ada Komentar »

Ekonomi Islam Solusi Alternatif atas Ketidakadilan Ekonomi Konvensional

Masih beralih ke lain hati?

Baca yuks…………………… :

Sistem ekonomi Islam menjadi solusi alternatif terhadap ketidakadilan yang muncul akibat sistem ekonomi konvensional, kata pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Masyhudi Muqorobin.

“Hal itu menunjukkan bahwa Islam memang membawa kebaikan untuk semua, bukan hanya untuk orang Islam. Islamisasi dalam ilmu ekonomi menjadikan ekonomi yang ada lebih Islami dan adil,” katanya di Yogyakarta, Kamis (16/2).

Menurut dia, ekonomi Islam memiliki keunggulan, baik sebagai ilmu maupun sistem. Dalam dunia profesional, ekonomi Islam juga dibutuhkan oleh pasar, karena sesuai dengan permintaan.

“Ekonomi Islam membawa nilai-nilai yang belum muncul pada sistem ekonomi konvensional. Contohnya, saat meminjam uang di bank konvensional, pertanyaan atas peminjaman menjadi kurang penting, sedangkan di bank dengan sistem ekonomi Islam, misalnya Bank Syariah, tujuan peminjaman harus jelas,” katanya.

Ia mengatakan tujuan peminjaman untuk pembelian barang atau jasa harus disebutkan, sehingga istilah peminjaman diubah menjadi pembiayaan. Bagi peminjam modal, sistem bagi hasil diberlakukan.

“Sistem bagi hasil artinya adalah bagi risiko. Di bank konvensional, jika peminjam bangkrut, maka jaminan akan diambil, bank tidak akan ambil pusing, tetapi dengan sistem ekonomi Islam, akan ada pemberian jangka waktu penangguhan,” katanya.

sumber: www.fimadani.com

Tidak ada Komentar »

Kontribusikan Semua Potensi untuk Dakwah dan Jama’ah

“Semua yang dimiliki kader harus bisa dikontribusikan untuk dakwah dan jama’ah. Jika kita punya rumah, harus ada kontribusi rumah untuk kegiatan dakwah dan jama’ah. Jika punya mobil, harus ada kontribusinya untuk dakwah dan jama’ah. Jika punya motor, harus ada kontribusinya untuk dakwah dan jama’ah. Dengan cara itulah kegiatan dakwah akan terus berjalan dengan lancar dan berkesinambungan”, demikian tausiyah dari ustadz Subaryanto, dalam acara Forum Silaturahmi Kader Dakwah Banguntapan, Bantul, DIY, Senin 13 Februari 2012.

Tausiyah ini sangat penting dan mendalam. Ada pertanyaan besar yang sering disampaikan orang, mengapa kita bisa memiliki banyak kegiatan, bersambung dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya, seakan tidak pernah berhenti dan istirahat. Pertanyaan mereka lebih ke arah, “Berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk berbagai kegiatan tersebut?” Ternyata kita sendiri bahkan tidak pernah menghitungnya, karena kita melakukan saja, bekerja saja, berkegiatan saja, tanpa pernah menghitung dengan rinci semua pengeluaran kita.

Lihatlah tradisi dakwah dan jama’ah yang sudah kita bangun selama ini. Pertemuan dilakukan dari rumah ke rumah, sekaligus silaturahim antar kader dakwah. Saat menghadiri pertemuan, kita datang dengan mengendarai motor, mobil, atau menggunakan angkutan umum. Kita tidak pernah meminta ganti atas semua yang kita keluarkan secara pribadi, demi kelancaran kegiatan dakwah. Inilah salah satu cara untuk mengkontribusikan semua potensi yang kita miliki untuk dakwah dan jama’ah.

Coba jika dihitung dengan teliti, berapa banyak dana yang telah kita keluarkan untuk satu pertemuan. Tempat pertemuan gratis, karena tidak perlu menyewa. Rumah kader bisa kita gunakan sebagai tempat pertemuan, bahkan di garasi atau di halaman belakang rumah pun bisa. Tuan rumah dengan suka rela menyediakan minuman dan makanan, sebagaimana tradisi menjamu tamu pada umumnya. Masih ditambah berbagai sarana seperti tikar, karpet, atau kursi dan meja, serta fasilitas pertemuan ala kadarnya yang dimiliki tuan rumah. Tempat pertemuan gratis, jamuan gratis, fasilitas gratis.

Para peserta datang sendiri, tanpa meminta ganti ongkos transport. Jika harus mengganti ongkos transport, maka akan terkumpul jumlah yang cukup besar, karena kader datang dari berbagai tempat yang berjauhan. Namun kehadiran kader dalam sebuah pertemuan dakwah, lebih sering tidak dikaitkan dengan ongkos transport, karena sudah menjadi tradisi rutin yang berjalan selama ini. Semua datang dengan kecintaan, semangat, pengorbanan dan harapan. Dengan demikian untuk satu pertemuan, hampir tidak ada dana yang perlu dikeluarkan karena semua sudah ditanggung oleh masing-masing kader yang menjadi peserta.

Kecuali untuk acara tertentu yang berskala nasional, memang ada sedikit “hitungan” yang berbeda, karena ada renik-renik dan unsur publisitas tertentu yang ingin dimunculkan. Secara umum, sekian banyak agenda dakwah yang telah berjalan rutin selama ini, menjadi tanggungan setiap kader, tanpa ada “hitungan” ganti. Semua kader memahami, ganti akan diberikan secara langsung oleh Allah dalam jumlah yang berlipat, jauh lebih banyak dari apa yang mereka kontribusikan.

Logika seperti ini sepertinya sulit dipahami masyarakat pada umumnya, bahwa ada banyak agenda kegiatan organisasi bisa berjalan dengan baik dan rutin, tanpa perlu kucuran dana dari organisasi. Biasanya, pada organisasi secara umum, setiap agenda kegiatan, selalu menimbulkan anggaran. Semakin banyak kegiatan, semakin besar  pula anggaran yang harus dikeluarkan. Kenyataannya, ketika tidak disediakan anggaran, kegiatan tidak bisa berjalan. Tidak begitu dengan organisasi dakwah. Logika yang berkembang adalah tadhiyah, sedangkan tadhiyah muncul dari kepahaman dan keikhlasan.

Tausiyah ustadz Subaryanto tersebut mengingatkan kita semua tentang urgensi kontribusi. Kader telah terbiasa dengan jalan kontribusi, bahkan bagi mereka, hal ini sudah tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan lagi. Kontribusi sudah menjadi akhlak, sudah menjadi aktivitas spontan, dan harian. Tidak perlu berpikir apakah akan meminjamkan ruangan untuk pertemuan, tidak perlu pertimbangan apakah akan meminjamkan mobil untuk perjalanan dakwah, tidak perlu merenung untuk memberikan fasilitas guna kelancaran kegiatan dakwah dan jama’ah. Semua sudah berjalan dengan sendirinya, tanpa dihitung-hitung dan diingat-ingat.

Setiap kader dakwah tidak pernah mengingat dan tidak memiliki catatan pribadi, berapa ratus ribu liter bensin telah dikeluarkan untuk kegiatan dakwah dan jamaah. Berapa juta kilometer jalan pernah ditempuh dalam menunaikan amanah dakwah. Berapa ribu kali meminjamkan motor atau mobil untuk kepentingan dakwah dan jama’ah. Berapa ribu kali menyediakan rumahnya untuk tempat kegiatan dakwah dan jama’ah. Berapa banyak uang telah dikeluarkan untuk kelancaran dakwah. Berapa banyak tenaga telah dikeluarkan guna menunaikan amanah dakwah.

Semua tidak dihitung, semua tidak diingat, semua tidak dicatat. Semua dikerjakan sepenuh kecintaan, sepenuh kesadaran, sepenuh kepahaman. Semua dikeluarkan dengan harapan akan mendapatkan balasan terbaik dari sisi Allah. Semua dikeluarkan tanpa perasaan menyesal. Hal ini bisa terjadi, karena kader memahami bahwa kontribusi adalah kunci keberlanjutan dakwah dan jama’ah. Kontribusi adalah jalan menuju kemenangan. Kontribusi adalah kekuatan.

Sungguh, kontribusi telah menjadi jalan hidup kami.

Oleh: Ust Cahyadi Takariawan

Tidak ada Komentar »

Takut

Tepuk Badut…
Prok 3x
Hidung tomat
Prok 3x
Perut gendut
Prok 3x
Kalo jalan,
geol-geol…..

Si kecil dan teman-temannya bermain tepuk-tepukkan di lapangan kecil komplek kami…
Kemudian salah satu dari mereka bercerita begini: “Bu Iin, temanku tu lho sudah kelas tiga padahal tapi takut sama badut. Tapi dia itu malah suka tepuk badut”
“Badut kan lucu… Koq takut sich?”
“Nggak tahu dech Buk….”
“Siapa yang takut badut?” Tanya saya sama anak-anak yang lain
“Sama Allah”… kata Tia
“Alhamdulillah… hebat!”
Anak-anak yang lain juga berkomentar
“Sama Allah……”
Berdialog bersama anak-anak kecil, selalu menyimpan makna bagi saya. Kejujuran dan kepolosan mereka, menjadi sarana kita untuk bisa masuk ke dunia mereka dan mengajarkan sesuatu yang baik pada mereka.
Beda kalau ya kalau sudah besar/remaja, ada sesuatu yang harus diubah dulu sebelum menyampaikan sesuatu yang lain. Yaitu mindset/pola pikir mereka. Berikut ini juga cerita edisi “takut”.
Waktu itu dalam suatu pertemuan kajian rutin pekanan bersama beberapa mahasiswi, saya tanya kepada mereka: “Siapa yang sudah rajin melaksanakan qiyamullail? Minimal seminggu nggak ada bolongnya?”
Beberapa peserta yang masih belum tercapai target ibadah hariannya menyampaikan alasannya.
“Saya Mbak masih suka bolong kalo air di asrama macet”
“Kalo saya, kalo nggak ada temannya tuk ke kamar mandi Mbak. Misalnya teman-teman sekamar lagi pada uzur”
“Lho koq takut ke kamar mandi, memang kenapa dik?”
“Sering denger crita yang serem-serem Mbak, jadinya takut ada yang ganggu. Kan pernah ada yang kesurupan juga”
“Memang siapa yang ngganggu dek?”
“Jin ya Mbak?” dia balik tanya
“Kalah sama Tia donk….:)”
Saat itu Tia sedang saya pangku
“Anak muslim takut sama siapa Tia?” tanya saya
“Allah” kata Tia

Tidak ada Komentar »

Bapak Tua

Seorang bapak tua (usianya lebih tua dari bapak saya kayaknya), duduk di ruang tunggu klinik dokter yang praktek di dekat Pasar Lawang ini. Tubuh bapak itu tinggi besar. Kakinya tampak bengkak-bengkak.

Beliau sudah datang duluan, sebenarnya sich saya sudah antri sejak pagi, tapi karena baru ambil nomor antrian, akhirnya dapat jatah jam 11 siang nanti.Lalu saya tinggal sarapan di warung makan dekat sini dulu.

Saya mengambil posisi duduk dekat bapak itu. Dan di sebelah saya ada ibu-ibu yang ngantri juga bareng saya dari tadi pagi. Beberapa menit kemudian Bapak Tua berpindah posisi. Di bangku yang satu lagi, dekat dengan jalan raya (bisa lihat pemandangan di luar). Di sebelahnya duduk nenek tua (yang awalnya saya kira istri beliau).

Tibalah nama bapak itu dipanggil. Dengan tertatih-tatih Bapak itu berjalan dibantu tongkat dan petugas jaga klinik. Setelah bapak itu masuk ke ruang periksa, petugas klinik bercerita kepada kami (para penunggu), kalo bapak itu hidup sendiri. Istrinya mengidap kanker stadium empat (dirawat di Surabaya, tempat saudaranya), dan mereka tidak punya anak.

Setiap kontrol kesitu, sang bapak tua senantiasa diantar-jemput tukang ojek.

……………………………………………………………………………………………….

Hati kecil saya terharu, kasihan sama bapak tadi dan  juga inget sama bapak saya di kampung. Alhamdulillah ada ibu yang masih bisa menemani dan merawat bapak, juga ada kakak yang meskipun di luar kota, tapi agak dekat daripada anak-anak yang lain. Dan ada kami,  anak-anak yang di perantauan, yang meskipun jauh, masih bisa menengok sesekali ke rumah.

Semoga Allah mengaruniakan kami anak-anak yang solih-ah dan menjadikan kami anak-anak yang solih-ah, sehingga bisa memberikan bakti pada orangtua kami. Aamiin…..

Tidak ada Komentar »

Mengkondisikan Anak di Forum/Acara ‘Serius’

Di acara pekanan kemarin ada teman yang bawa anak. Plak… temannya menjadi sasaran pukulan. Dan yang lain juga… Kami hanya bisa diam dan saling berpandangan…

Alhamdulillah, nemuin artikel yang pas tulisan Mb Vida Robiah Al Adawiyah, pelajaran buat saya sendiri khususnya….

penaperempuan.blogspot.com

Mengkondisikan Anak di Forum/Acara ‘Serius’

kasus 1 :

 ”prang!!!!” tutup toples itu akhirnya pecah oleh anak seorang temanku.Sebelumnya si anak mengaduk-aduk isi toples, berpindah dari satu hidangan ke hidangan lain, tanpa dihabiskan! Kami yang dari tadi miris dan melihat si empunya rumah juga ’cemas’ namun pekewuh negur  akhirnya hanya bisa saling pandang dan menggelengkan kepala. Teguran kami sedari tadi tak meredakan tingkah super ngglidisnya, sedang ibunya? hanya berkomentar ”Nah, mbak nana ( bukan nama sebenarnya), pecah kan?Maaf ya Bu…” Dari tadi ngapain aja buuu??? Ada lagi yang curhat, tanaman hias kesayangannya tercabik-cabik karena tamu kecilnya tidak dihandle dengan baik oleh ibunya.
kasus 2:
Dari tadi beberapa anak  itu kok gak bisa diam ya. Naik turun panggung, mengganggu pembicara (ustadz) Sang ustadz sampai agak jengah dan  wajar jika kehilangan mood dan konsentrasi. Forum yang tadinya menjadi harapan kami menimba ilmu dan merefresh ruhiyah kami, sontak menjadi ajang teriakan, lari-larian. Sebalnya, orangtua anak-anak itu –padahal datang berdua- tidak aada yang beranjak dan mengajak anaknya menjauhi arena atau memberi kegiatan ’alihan’. Diam, hanya ragu-ragu dan memanggil-manggil, atau –bahkan- asyik mengobrol. Ndilalahnya (solo banget) selalu mereka yang jadi ’bintang panggung’.Hiiiih kalau saya orangtuanya, sudah saya angkat anak itu dan saya korbankan tempat duduk saya.Resiko mengajak anak kan?
kasus 3:
Diacara pernikahan seorang kerabat. Seorang anak memaki anak-anak saya dengan berteriak-teriak .”Ini kursiku semua, jangan duduk disitu!!! Jelek kamu”. Selanjutnya si anak tadi meneriaki ibunya, membuat onar, mengacak-acak sup. Ibunya yang malu semakin  panik. Saya hanya memberi isyarat anak-anak untuk diam dan pindah.Jujur saya malas menegur. Anak saya yang memang dari siang sudah saya kondisikan jika  jadi ikut, untuk  duduk ditempat yang lapang, dideretan belakang dan ambil kursi dekat meja agar bisa makan dengan santai. Anak-anak heran dan berbisik ”mungkin dia tadi belum dikasih tau  mamahnya ya, Mi?” Yang tengah berkata ”Kok dia gitu  ya mi, itu mamahnya kan malu ya. ini kan kursinya bukan punya dia ya, kan bukan rumahnya” hehe

Begitulah.Itu tiga kasus paling sering saya jumpai. Anak-anak di forum serius orangtua.Apakah rapat sekolah, acara-acara pengajian pekanan, seminar (kecuali yang emang boleh bawa anak), undangan pernikahan atau sekedar bertamu. Yah sebenarnya ini secara umum tentang mengajak anak bepergian dan bertandang diluar rumah, tapi saya senang memakai judul diatas
Sebenarnya, anak-anak memiliki dunia bermain dan waktu konsentrasi yang bisa kita pelajari dan kita kondisikan. Sikap dan attitude diluar rumah pun bisa kita biasakan. Mengajak anak-anak di forum yang ’bukan’ milik mereka menawarkan konsekuwnsi yang mestinya telah kita prediksikan. Bukan untuk kenyamanan kita saja, tentunya, tapi untuk orang lain di forum yang sama. Ya, Saya pun sadar, mungkin kita terpaksa mengajak anak-anak di forum yang serius dan penting  karena tidak ada pihak lain yang bisa kita titipi selama kita pergi. It’s oke sebenarnya, itu pilihan namun sangat perlu kita persiapkan. Semoga sharing pengalaman ini sedikit membantu
1. Pra kondisi itu perlu
Sebelum mengajak anak-anak, pastikan bahwa mereka mengetahui acara yang akan mereka datangi. Beri gambaran, kemudian beri pilihan. Jangan mendadak mengajak atau juga meninggalkan mereka. Maaf, biasanya saya memberi tahu jadwal acara keluar rumah pada anak-anak sehari sebelumnya. Anak-anak mengerti bahwa saya pengajian pekanan di hari Senin, rapat sekolah mereka, tugas di Posyandu, pergi dengan abi dan semua kegiatan saya. Saya mencoba mendiskripsikan satu-satu dan mengusahakan memberi mereka pilihan. Tidak setiap saat karena sekarang anak-anak sudah ngerti bahwa mereka bisa ikut atau tidak.
Misal jika saya pengajian pekanan. Saya bilang ke mereka begini
Saya:”Umi besok pengajian, halaqoh”
Anak-anak:”Liqo’ ya mi? Dirumah sini atau di rumah teman umi?”
Saya: ”Dirumah teman umi ?”
Anak-anak :”Rumahnya luas atau tidak? Kalau rumahnya luas, kami boleh ikut kan kata umi?Kalau rumahnya kecil ya..kami gak ikut”
Saya: “Ya, boleh.Jika kamu ikut, adek umi tinggal sama mbak ros (atau pengasuh), dan kalian bersiap karena umi tidak mau terlambat. Tapi sampai hampir maghrib lho acaranya dan disana ada aturan, kalian tidak mengganggu umi ataupun ibu-ibu yang lain. Karena umi disana mengaji, bukan bermain santai. Kalian bawa persiapan yang biasa kalian bawa untuk mengisi waktu. “ Maaf saya memang terbiasa mengajak anak2  berbicara’ serius untuk hal serius
Anak-anak “Hm… sampai maghrib ya.Berarti aku gak bisa nonton TV champion Zona Juara ya? Trus kalo misalnya aku gak ikut? “
Saya:“Ya, kalian bisa membuat snack sore ( dengan bahan seadanya.Biasanya minimal saya mnyediakan nutrijel ), mandi agak nanti, iqro’ dengan mbak Ros, nonton Zona Juara, atau jika Yangti Lia (tantenya Suami)nanti datang dan mengajak kalian ke alun-alun, kalian boleh juga ikut, asal tidak sampai maghrib.Gimana? Silakan aja pilih”
Biasanya si sulung memilih stay at home, sitengah juga ikut kakaknya. Atau ikut saya. Sayapun siap dengan pilihan anak-anak. Jika mereka akhirnya ikut dan ‘bosan’ mereka akan ingat aturan saya dan biasanya lumayan bisa agal bersabar.Yah, semua pilihan ada akibatnya itu prinsip saya. Itu selalu begitu dalam tiap acara yang saya ikuti.
2. Persiapan
Saya terinspirasi dengan seorang teman mengaji saya. Ia seorang dokter.Saat itu seingat saya, putranya yang sebaya dengan sulung saya berusia 2 tahun dan si sulungnya berusia 5 tahun (kalau tidak salah). Saat pengajian beliau membawa bekal makan sore lengkap nasi dan sayurnya, dengan sendok dibungkus kantong plastik, terlihat higienis dam cermat. Saya senang melihatnya dan saya ingat-ingat terus. Ternyata, itu adalah cara beliau untuk menjaga ’jadwal makanan’ anak-anak. Luar biasa. Begini jelas beliau setelah sekian lama saya ingatkan lagi peristiwa itu, ”anak-anak usia dibawah 7atau 8 tahun umumnya belum bisa menahan lapar, bu.Jadi jika tidak terpaksa, jangan mengajak pergi menabrak jam makan. Jika itu terjadi, bawakan bekal, agar jadwal makannya tidak terganggu” Itu salah satu ilmu yang saya dapat dari ibu-ibu yang cermat. Pun  demikian ada pula –pelajaran – sebaliknya. Saya pernah melakukan ketidaktelitian dalam mempersiapkan anak-anak saya keluar rumah, saya lupa membawa baju ganti.
Ya, jika memang kita memilih anak-anak ikut ke forum dan acara kita, persiapan yang cermat akan membantu kita untuk tenang. Perlengkapan pribadi (baju ganti, popok/diapers/celana cadangan, tisue basah, handukkecil, obat-obatan sederhana , minyak telon, bekal makanan-minuman), perlengkapan mengisi waktu ( buku cerita, majalah, buku gambar dan crayon, kertas lipat, lem, gunting, play dough, plastisin, dll)
Siapkan pula kemungkinan terburuk jika pra kondisi tidak berhasil ditengah acara. Misalnya, cepatlah membuat anak tenang dan atau carilah tempat duduk yang memungkinkan kita segera mengajak anak keluar arena saat mereka bosan
3. Menghandle Anak Bersama
Jika kita memang datang di acara tersebut berdua, dan memang telah disepakati untuk tidak menitipkan anak-anak pada pihak lain (hehe) ya semestinya kita dan pasangan dapat bekerjasama. Terus terang, saya dan suami biasa melihat substansi acara untuk memutuskan mengajak anak-anak atau tidak. Jika kami memiliki pengasuh, atau tante kami longgar dan bersedia mengajak dua putri tertua kami, ya kami memilih tidak membawa mereka. Bukan apa-apa, kami mencoba mempertimbangkan apakah forum ini bisa ’dinikmati’ anak2 atau tidak. Apakah kami bisa menghandle ank-anak atau tidak, apakah kehadiran anak-anak kami mengganggu forum atau tidak.
Atau…jika kami memang harus membawa anak ke sebuah forum, semua persiapan harus prima dan kami harus bekerjasama menghandle mereka. Saya kadang gemas melihat suami istri, membawa anak –lebih dari satu- dan hanya si ibu yang repot dan kalangkabut saat anak-anak mereka rewel. Sang ayah hanya duduk bersedekap atau bahkan tidak hafal tangisan dan amukan anaknya hehe.
Kadang-juga- orangtua tidak peka bahwa ke’aktifan’ anak-anak mereka sebenarnya mengganggu orang lain. Mungkin, mereka anggap ini sebuah bentuk ’keberanian’, kreatif atau lucu. Padahal, anak-anak mulai usia 2tahun sudah dapat diberi tahu tentang adab dan kesopanan. Saya termasuk yang sering risih dengan pemandangan hiruk pikuk anak-anak di forum serius meskipun tentunya saya harus menahan diri.Orangtua harus jeli saat membawa anak-anak apakah tingkah anak mereka membahayakan, merisihkan atau bahkan membuyarkan konsentrasi. Apalagi jika mereka memilih tidak menitipkan anak-anak ke tempat hadhonah atau children area.Sejauh ini  selalu saya tanamkan pada anak-anak bahwa setiap tempat memiliki aturan, jadi jika mereka ikut acara kami  mereka tau apa yang harus mereka jaga ditempat berbeda. Hal itu sangat kami ingatkan terus. Biasanya kami pun memberi ‘reward’ jika mereka bersikap disiplin dan menyenangkan, mentaati perjanjian hehe
4. Hadhonah dan Children Area : Rekomendasi Untuk Penyelenggara
Anak-anak dibawah lima tahun memang tak bisa berkonsentrasi dalam waktu lama. Maka jika kita menyelenggarakan acara atau dapat mengusulkan pada penyelenggara, jasa hadhonah (penitipan anak dan pengasuhan) dan children area mestinya harus diprioritaskan. Sebab, saya menyadari semua orang ingin datang kesebuah acara penting dan memang tidak semuanya bisa meninggalkan anak-anak dirumah. Maka tim menghandle anak-anak disebuah acara (misal daurah, seminar, atau pengajian bahkan) harus ada.
Suami saya pernah dengan tegas meminta panitia dan para orangtua disebuah acara untuk menghandle dan menenangkan anak-anak. Secara, sesion beliau mengisi waktunya siang hee. Ya,ya… penyelenggara yang profesional akan mencoba memfasilitasi children area di forum serius. Lalu bagaimana dengan orangtua yang –maaf- kadang ngeyel untuk tetap mengajak anaknya didalam forum? Orangtua sebenarnya bisa memasukkan poin ini pada tahap ’pra kondisi’ dengan mengatakan pada anak-anak ”jika kamu  mau ikut, nanti disana ada tempat untuk anak-anak kamu disana ya atau jika tetap ingin sama umi kamu bisa tenang” dan jika kita akan menitipkan anak-anak di children area atau hadhonah, usahakan datang lebih awal agar anak enjoy dahulu dan tidak kaget

Begitulah, mungkin tulisan ini terkesan ih mau ajak anak aja kok ribet. Tapi jujur, tulisan ini sudah mengendap beberapa waktu. Terus terang dengan sangat jujur saya akui saya sering merasa terganggu dengan acara yang sudah dipersiapkan, kita dapat amenggali ilmu, pembicara pun sudah didatangkan jauh-jauh dan tentu sudah mempersiapkan diri, ternyata nuansa tholabul ilminya gak dapat dan bahkan rusak karena teriakan anak-anak. Semoga ini nasehat untuk diri saya sendiri.Salam inspiratif!

Tidak ada Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.