Perjalanan Panjang Menuju Muslimah Kaffah

Just another WordPress.com site

Remaja Kita

Miris ya melihat fenomena remaja zaman sekarang. Kalo nggak berantem, MBA (Merried By Accident alias hamil dulu baru nikah), pesta miras, narkoba, dll.

Kalo free sex, bukan takutnya sama Allah, tapi takut hamil.. Masya Allah…………….

Trus suka berantem karena masalah sepele, kalo nggak rebutan pacar ya karena nggak terima or sakit hati karena diejek.

Trus beberapa hari yang lalu lihat berita di TV,  polisi menggrebek para pelajar yang lagi pesta miras…. Masya Allah, padahal pelajar ya tugasnya belajar, eh malah pada ngancurin masa depannya dengan hal-hal semacam itu.

Kalo dulu pas SMA saya pernah  bikin karya tulis “Pengaruh Televisi Terhadap Gaya Hidup Remaja”, mungkin saat ini sudah harus diubah judulnya menjadi “Pengaruh Teknologi Modern Terhadap Gaya Hidup Remaja” karena banyaknya media yang sangat berpengaruh selain TV, tapi juga ada media lain, misalnya internet. Dengan google, youtube, fb, twitter, dan program-program lainnya, yang semakin mudah diakses, bukan tidak mungkin sedikit banyak sangat berpengaruh pada gaya hidup para remaja.    Bagaimana tidak,  dengan 2500 rupiah per jam, anak-anak/remaja kita dapat mengaksesnya selama satu jam. Trus dengan sekali klik saja, maka banyak obyek yang akan keluar. Misalnya dengan menulis “kaki” di google, maka akan muncul berbagai objek yang sangat bermacam-macam.

Belum lagi dari pergaulan dengan teman-temannya, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Inilah tantangan orangtua pada era ini. Tantangan akan lebih besar lagi  di masa mendatang.

Berharap ketika anak saya kelak remaja dan beranjak dewasa, Allah senantiasa menjaga diri, perilaku, dan lingkungan mereka………………………………………………………………………

Tidak ada Komentar »

Bersyukur Atas HidayahNya

Setelah resign dari pekerjaan saya, otomatis waktu saya banyak di rumah. Sehingga sosialisasi saya dengan keluarga, tetangga dan teman-teman semakin sering. Waktu saya bersama suami dan anak semakin intens. Apalagi suami kerjanya shift-shiftan, karena saya lebih banyak di rumah, sehingga kami lebih sering bisa bertemu dan dapat melakukan aktifitas keluarga bersama-sama. Seperti berdiskusi, bedah buku, sholat berjamaah, dll. Dengan tetangga, karena saya memang tinggal di lingkungan heterogen, saya jadi semakin sering interaksi, menyapa dan berbincang dengan ibu-ibu, baik dalam pertemuan atau kegiatan warga, seperti PKK, pengajian, senam, ataupun ketika dalam suasana santai, misalnya ketika sambil nyuapin si kecil atau ketika sekedar  mengajak si kecil main di luar atau jalan-jalan ke taman perumahan.

Dengan teman-teman, selain via sms dan telfon, karena akses internet di rumah yang unlimited, semakin memudahkan saya berkomunikasi dengan mereka. Memanfaatkan berbagai fasilitas seperti facebook, tweeter, blog semakin memudahkan akses saya dengan teman-teman. Baik teman bermain di kampung halaman, teman SMP, teman SMU, teman kuliah, teman kerja, dll.

Ditambah dengan aktivitas nulis dan bisnis online, interaksi saya melalui jaringan komunikasi ini semakin erat. Sehingga tak jarang saya kembali “berkangen-kangenan” dengan teman-teman saya, tentu saja teman-teman putri :) , kalau yang lawan jenis kan sudah jelas batasannya. Dari banyak teman yang saya kenal dulu, saya melihat banyak yang sudah berubah. Dari foto dan tulisan-tulisan yang mereka kirimkan. Mulai dari pakaian, aktivitas, terlihat perubahan dari mereka. Misalnya ada teman SMP yang dulu belum menutup aurat, sekarang sudah menutup aurat dengan rapi, tapi ada juga yang saat kuliah berjilbab rapi, sekarang masih berjilbab, tapi sudah mulai terlihat bagian dadanya. Kemudian ada yang  statusnya sudah menikah dengan keluarga samara-nya (sakinah mawadah warahmah), ada juga yang statusnya “berpacaran” (bahkan tak segan mengupload fotonya berdua dengan kekasihnya, dengan pose-pose laksana suami istri), atau ada juga yang TTM (teman tapi mesra), dll. Terkait dengan jilbab atau pakaian, apakah itu mencerminkan keimanan seseorang? Sebenarnya iman itu ada di dalam hati masing-masing, tapi kemudian… ke mana materi tentang pakaian menurut syariat Islam, yang selama ini sudah kita pelajari dan pahami?

Perubahan adalah keniscayaan. Dan saya pun berubah. Saya bersyukur atas perubahan diri saya. Saya memahami bahwa saya dahulu adalah orang yang biasa saja. Termasuk ibadahnya (cenderung hanya melaksanakan yang wajib-wajib saja :) ). Dan meskipun sering diikutkan lomba oleh guru-guru saya di SD, SMP, atau guru ngaji saya ketika SD-SMP di Darul Athfal, tapi rasa kurang pe-de, kurang gaul, perasa, kadang masih ada. Alhamdulillah setelah terlibat dalam kajian rutin dan orang-orang di dalam komunitas tersebut, saya merasa ada perubahan dalam diri saya, merasa menjadi luar biasa dan lebih tenang karena meyakini hanya Allah-lah tujuan, karena Allah sudah mengatur rizki, jodoh, dan umur kita, serta saya lebih memahami bahwa kesuksesan bukan hanya dari materi dan dunia saja, tapi kesuksesan dunia akhirat yang kita citakan. Potensi sayapun semakin bisa saya optimalkan, dengan tetap menjaga batas-batas syar’i insya Allah. Termasuk semangat menambah amalan ibadah. Dan berusaha memberikan manfaat untuk orang-orang di sekitar kita.

Awalnya, saat SMU saya diajak teman untuk mengikuti kajian keputrian di mushola sekolah. Awalnya sich sering kabur-kaburan. Lebih senang pulang dan langsung istirahat di rumah setelah capek dengan aktivitas belajar dan tugas-tugas di sekolah. Namun, dengan kesabaran teman-teman dalam komunitas tersebut dengan saling memotivasi, dan juga didukung dari keluarga, perlahan saya semakin aktif di sana.

Alhamdulillah keluarga sangat mendukung karena kebetulan kakak sayapun aktif di kegiatan Rohani Sekolah (meskipun di sekolah yang berbeda), kakak juga sering mengajak teman-temannya ke rumah. Sejak SMU sampai kuliah, kakak sering mengajak temannya ke rumah. Sayapun simpatik dengan mereka. Anggun, ramah, dan pinter-pinter . Kebetulan kakak saya SMUnya di SMU favorit dan terbaik di kota kami.  Dan kuliahnyapun di kampus favorit dan bonafit juga, di Yogyakarta.  Kadang kakak juga beli majalah remaja islami, kaset-kaset nasyid, buku-buku pengetahuan Islam, dll. Sayapun semakin termotivasi.

Perlahan interaksi saya dengan teman-teman di kajian rutin dan kakak-kakak kelas semakin sering, semakin banyak saya belajar tentang Islam dan kehidupan, semakin saya merasakan bahwa banyak yang belum saya ketahui. Sayapun semakin semangat untuk belajar dan terus belajar, serta belajar mengaplikasikan apa yang telah saya pelajari. Misalnya ketika diberikan materi tentang akhlak. Bahwa sesungguhnya akhlak adalah buah dari iman. Ibarat pohon, iman adalah pohonnya, dan akhlak adalah buahnya. Iman yang sempurna itu adalah ibarat sebuah pohon buah yang enak di makan. Pohon ini besar dan rimbun. Akar-akarnya menghunjam ke bumi. Cabang dan rantingnya banyak. Selalu berbunga dan berbuah. Selalu menghasilkan bibit pohon buah yang baru yang terkadang jauh lebih baik, lebih rindang dan akarnya yang lebih kuat. Dan akhlak itu juga banyak macamnya: akhlak kepada Allah, akhlak kepada Rasul, akhlak kepada sesama manusia, dll.

Atau yang paling mengena untuk para remaja tentang adab pergaulan, bahwa gaul itu boleh. Boleh banget. Malahan Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bergaul. Tapi gaul yang Islami, tentunya. Seperti apa gaul Islami? Gaul yang tetap menjaga syariat Islam. Seperti tidak berkhalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya), berikhtilat (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan), menjaga aurat, menundukkan pandangan, tidak menimbulkan fitnah, dll.

Akhirnya setelah lulus SMU, saya mendapatkan PMDK di salah satu PTN di Bogor, kampus yang kental dengan susana keislamannya, dan saya dikenalkan dengan teman kakak kelas saya yang ada di kampus tersebut. Sehingga aktivitas saya dari SMUpun terus berlanjut. Terlibat dalam aktivitas keislaman. Sampai kemudian lulus kuliah dan menjadi pengajar di Sekolah Dasar Islam Terpadu di Bogor yang kental juga dengan nuansa keislamannya, saya semakin mantap menapaki jalan ini dan menjaga hidayahnya. Padahal, kadang kemudian banyak yang “terlepas” saat idealisme dibenturkan dengan realitas. Seperti misalnya tawaran kerja di perusahaan yang bergengsi tapi harus meminimaliskan jilbab (maksudnya tidak boleh berjilbab terlalu lebar), kemudian kesibukan di tempat kerja yang terkadang juga membuat beberapa teman “terlepas”. Saya bersyukur berada dalam lingkungan kerja yang sangat kondusif. Yang sangat menekankan pada pembinaan spiritual dan juga karakter.

Beberapa lama kemudian, seorang lelaki sholeh menjadi imam saya. Yang dengannya, hidayah ini semakin indah saya rasakan. Bersama dengannya, membangun keluarga peradaban…..

Alhamdulillah, Allah telah memberikan hidayah dan menetapkannya. Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya. Terima kasih ya Allah, berikanlah hamba keistiqomahan.

1 Komentar »

Adab Pergaulan Islam

Spesial utk adik2 ku :) ……….

Gaul Tapi Islami : Bisakah? Kesannya gaul itu tidak islami. Apa benar? Bisakah kita jadi gaul tapi tetap islami? Untuk menjawab pertanyaan ini, bagusnya kita lihat saja model ideal seorang muslim: Rasulullah. Beliau adalah sosok yang menyenangkan. Wajahnya sumringah di hadapan sahabat-sahabatnya. Beliau amat baik kepada keluarganya dan amat penyayang kepada anak-anak. Nah, kita sendiri yang juga muslim ini bagaimana? Bisa tidak seperti beliau?

Moral – Respek – Komunikatif

Menjadi gaul yang islami insyaallah bisa kita lakukan dengan minimal tiga kunci: 1) moral, artinya selalu berkomitmen kepada aturan-aturan dan nilai-nilai Islam, 2) respek, artinya menghargai orang lain, dan 3) komunikatif, pandai menjalin komunikasi.

Pergaulan Seorang Muslim dengan Non MuslimDalam perkara-perkara umum (sosial) kita tetap menjalin hubungan yang baik dengan non muslim sekalipun. Contoh baik: Nabi berdiri ketika iring-iringan jenazah non muslim melewati beliau.Kita perlu tahu bahwa ada tiga jenis non muslim: 1) kafir harbi, 2) kafir dzimmi, dan 3) kafir mu’aahad. Masing-masing mendapat perlakuan yang berbeda.

Dalam masalah aqidah dan ‘ubudiyah, kita tegas terhadap non muslim. Seperti: kita tidak mengucapkan dan menjawab salam kepada mereka, tidak mengikuti ritual ibadah mereka, dan semacamnya.

Pergaulan Sesama Muslim

Sesama muslim adalah bersaudara, seperti tubuh yang satu dan seperti satu bangunan yang kokoh dan saling mendukung antar bagiannya.

Pergaulan sesama muslim dibalut dengan ukhuwah islamiyah. Derajat-derajat ukhuwah islamiyah adalah: 1) salamatus shadr wal lisan wal yad, 2) yuhibbu liakhihi maa yuhibbu linafsih, dan 3) iitsaar.

Ada banyak hak saudara kita atas diri kita, diantaranya sebagaimana dalam hadits Nabi: 1) jika diberi salam hendaknya menjawab, 2) jika ada yang bersin hendaknya kita doakan, 3) jika diundang hendaknya menghadirinya, 4) jika ada yang sakit hendaknya kita jenguk, 5) jika ada yang meninggal hendaknya kita sholatkan dan kita antar ke pemakamannya, 6) jika dimintai nasihat hendaknya kita memberikannya.

Juga: tidak meng-ghibah saudara kita, tidak memfitnahnya, tidak menyebarkan aibnya, berusaha membantu dan meringankan bebannya, dan sebagainya.

Jika kamu mencintai saudaramu, ungkapkan. Hadiah juga bisa menumbuhkan rasa cinta diantara kita.

Jangan mudah mengkafirkan sesama muslim kecuali jika ada sebab yang benar-benar jelas dan jelas.

Pergaulan Antar Generasi

Yang tua menyayangi yang lebih muda. Yang muda menghormati yang lebih tua.

Pergaulan dengan Orang yang Dihormati

Hormatilah orang yang dihormati oleh kaumnya. Bagi orang-orang yang biasa dihormati, jangan gila hormat. Juga, penghormatan harus tetap dalam bingkai syariat Islam.

Contoh orang-orang yang biasa dihormati: tokoh masyarakat, pejabat atau penguasa, orang-orang yang mengajari kita, dan sebagainya.

Pergaulan dengan Ortu dan Keluarga

Bersikap santun dan lemah lembut kepada ibu dan bapak, terutama jika telah lanjut usianya. Jangan berkata uff kepada keduanya.

Terhadap keluarga, hendaknya kita senantiasa saling mengingatkan untuk tetap taat kepada ajaran Islam. Sebagaimana Nabi telah melakukannya kepada Ahlu Bait. Dan Allah berfirman: Quu anfusakum wa ahliikum naara.

Pergaulan dengan Tetangga

Tetangga harus kita hormati. Misalnya dengan tidak menzhalimi, menyakiti dan mengganggunya, dengan membantunya, dengan meminjaminya sesuatu yang dibutuhkan, memberinya bagian jika kita sedang masak-masak.

Pergaulan Antar Jenis

Sudah menjadi fithrah, laki-laki tertarik kepada wanita dan demikian pula sebaliknya.

Islam telah mengatur bagaimana rasa tertarik dan rasa cinta diantara dua jenis manusia itu dapat disalurkan. Bukan dengan pacaran dan pergaulan bebas. Tetapi dengan ikatan yang kuat (mitsaq ghaalizh): pernikahan.

Jadi, ada batasan-batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan diluar pernikahan. Terutama diantara muda-mudi karena sedang berada dalam puncak emosi, hasrat dan gelora. Ini semua untuk mencegah terjadinya perbuatan yang keji.

  1. Boleh saling mengenal antara laki-laki dan perempuan.
  2. Boleh berkomunikasi antara laki-laki dan perempuan, tapi ada batas-batasnya.
  3. Wanita muslimah boleh bersuara diantara kaum laki-laki, tapi …
  4. Hendaknya masing-masing berbusana sesuai syariat: 1) menutup aurat, 2) tidak transparan, 3) tidak ketat dan memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, 4) tidak tabarruj, 5) pakaian laki-laki tidak menyerupai pakaian wanita, begitu pula sebaliknya, 6) tidak menunjukkan perhiasan secara berlebihan, 7) tidak berpakaian dengan sombong, 8) sopan dan tidak memunculkan fitnah.
  5. Tidak berkhalwat.
  6. Tidak ikhtilath.
  7. Menundukkan pandangan.
  8. Jangan sentuh aku! Jangan pegang aku! Nanti aku lempar dengan sepatu! Bersalaman boleh nggak?
  9. Seorang muslimah tidak melenggak-lenggokkan tubuhnya sedemikian rupa yang memunculkan hasrat. Juga tidak memakai minyak wangi ketika berada diluar rumah.
  10. Seorang muslimah tidak bepergian JAUH sendirian saja jika dirasa tidak aman, juga jangan bersama dengan orang yang malah menjadi musuh dalam selimut.
  11. Tidak melakukan hal-hal yang bisa memunculkan fitnah diantara kedua jenis, seperti: 1) bersuara merayu, atau seorang wanita bernyanyi atau berucap dengan suara yang dimerdukan, dilemahlembutkan, mendesah, penuh harap dan semacamnya. 2) bercanda yang berlebihan dan tidak perlu, misalnya saat syura ataupun pada kesempatan-kesempatan yang lain. 3) membuka pintu-pintu fitnah seperti: sms-an yang tidak perlu, telepon terlalu lama atau terlalu sering diluar kadar kebutuhan, chatting yang mengarah keluar batas, memberikan cinderamata yang penuh makna dan kepentingan khusus, pembicaraan yang nyerempet-nyerempet, dan sebagainya.

Wallahu a’lamu bish-shawaab.

Sumber: www.menaraislam.com

2 Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.